Perjalanan Hidup Seorang Pencari Uang
Barusan maen dari blog teman, si imam. Boleh juga tuh kerjaan sampingan dia, paid-blogger kalo saya bilang sih. Good, good, good..wong saya juga setali tiga uang sama dia, menggunakan media internet dan menjelma dari seorang blogger biasa menjadi blogger yang lebih dari biasanya, maksudnya paid-blogger gitu,hehe.
Mengapa saya katakan demikian? Daripada internet dipake buat hal-hal yang tidak bermanfaat, akan lebih bijaksana apabila internet dijadikan sebagai media untuk mencari berita paling update, mencari ilmu, atau mencari uang-atau penghasilan tambahan;selama masih halal,mengapa tidak? Apalagi zaman sekarang : tiap sekolah tinggi atau universitas meluluskan mahasiswa-mahasiswanya, belum lagi anak-anak SMA/SMK yang baru lulus, yang belum tahu jelas jluntrungnya mereka mau kerja dimana. Sehingga, setiap tahun Indonesia sudah mempersiapkan lebih dari 9% akademisi-akademisi siap nganggur!
Btw, tertarik dengan audisi-audisi yang diadakan oleh televisi-televisi swasta di Indonesia? Hahaha, silakan saja apabila anda tertarik. Sebenarnya audisi itu sendiri banyak bukan? Ada audisi PNS, audisi masuk tempat kerja X, Y, Z, dll; Akan ada banyak sekali, tidak hanya audisi menjadi artis atau presenter televisi!
Mengapa nggak memanfaatkan fasilitas internet untuk bekerja?
Saya rasa jika kita menggunakan internet dengan bijaksana, akan sangat mungkin buat kita untuk meraup uang yang tidak begitu sedikit. Jika ditelateni, insya Allah bisa. Memangnya bang google mau kasih gratis tuh search engine? Coba anda perhatikan, di sebelah kanan kalo anda sudah melakukan searching terhadap salah satu artikel melalui google. Atau di email google, Anda melihat iklan, meski kecil bukan? Nah, itu salah satu sumber pendapatan google - iklan. Atau contoh kasus yang lain, misal yahoo yang termasuk sebagai pendahulu dari google. Lihat aja, ada iklan dimana-mana bukan? Ya, iklan. Itulah salah satu clue-nya. Iklan adalah salah satu cara bagaimana kita bisa mendapatkan uang berupa dolar, rupiah, dsb melalui dunia maya.
Sekedar pengetahuan saja, tetangga saya di daerah dayeuhkolot, bandung, sudah ada yang menyatakan pensiun dari PNS, di usianya yang cukup dini-saya taksir sekitar 28 - 30an. Konon, beliau sudah bisa mendapatkan uang sejumlah 10 jutaan melalui media internet.Bagi saya,uang sejumlah itu tergolong amat besar. Pantas saja jika menyatakan pensiun dari status PNS-nya.
Uang, memang memegang peranan penting dalam kehidupan sehari-hari. Akan alasan itulah mengapa manusia berlomba-lomba untuk mencari uang, bahkan ia sampai bersekolah hingga jenjang pendidikan yang lebih tinggi untuk mendapatkan semacam title atau pangkat, yang dengannya akan membawanya ke jenjang karir yang lebih tinggi. Lagi-lagi jenjang karir tersebut bermuara terhadap gaji dan pendapatan yang lebih tinggi. Ujung-ujungnya adalah uang. Terus terang, yang saya khawatirkan bukanlah hal demikian. Jika kita terlalu mengejar kebutuhan, memang sudah sewajarnya akan selalu bertambah dan kita memerlukan uang. Kalo di bahasa marketing-nya kebutuhan orang itu akan bertambah seiring dengan meningkatnya daya beli mereka, dan daya beli seseorang hanya dinilai dengan uang.
Adakah yang kurang?
Saya sempat berfikir, seandainya masing-masing dari kita terlalu sibuk berkecimpung di dunia pencarian uang, entah itu didapat dari bekerja di dunia nyata maupun maya, dengan pekerjaan yang halal atau (maaf) haram, lalu apa yang bisa kita berikan untuk diri kita sendiri? That's the main point! Itulah yang ingin saya sampaikan kepada saya sendiri, serta anda sebagai pembaca!
Yang ingin saya utarakan disini adalah seberapa besar kita sadar bahwa apa-apa yang kita miliki bukanlah bertujuan akhir disini, di dunia. Anda bisa bayangkan, di usia 20 tahun anda memulai karir sebagai tukang kayu. Setelah 4 tahun, anda mengalami peningkatan omzet yang cukup drastis, yang kemudian berdampak positif terhadap kondisi keuangan anda, sehingga strata anda mulai berubah pada hari itu dari seorang gembel tukang kayu menjadi tengkulak kayu di daerah X. Karena memiliki relasi dagang yang cukup banyak, setelah 6 tahun anda berani membuka toko yang tidak terlalu besar untuk menjual kayu dan memasarkannya ke toko-toko mebel yang membutuhkan. Di usia yang sudah melampaui setengah abad tersebut, anda terus menerus meningkatkan omzet penjualan kayu-kayu anda dengan cara lobi-lobi ke toko-toko mebel di hampir seluruh penjuru Indonesia. Anda memiliki omzet yang sangat besar, sehingga untuk mengantisipasi hal-hal yang tidak diinginkan dari beberapa pihak yang tidak bertanggungjawab yang mungkin saja menggunakan nama tokonya untuk melakukan kejahatan dagang, maka anda membuat perusahaan khusus menangani bisnis perkayuan. Lambat laun bisnis kayu anda mengalami kemajuan cukup pesat dengan ditawarkannya saham perusahaan anda di salah satu bursa efek di Indonesia. Saat itu anda menjadi pemilik tunggal perusahaan X, pemilik perusahaan yang memahami konsep jual beli dan fluktuasi harga saham, yang tidak lain adalah berawal dari seorang tukang kayu di daerah antah berantah. Senang sekali bukan? Bisa anda bayangkan, ketika anda menghitung umur anda, sepertinya sudah memasuki usia 55 tahun, dan usia tersebut adalah usia dimana para pegawai negeri sipil mengalami pensiun. Anda baru sadar, jika sejak awal menjadi tukang kayu, pekerjaan sehari-hari anda adalah memikirkan bagaimana supaya pekerjaan anda akan semakin baik di kemudian hari, bagaimana supaya anda bisa menghidupi anak istri anda, serta bagaimana supaya anda bisa membantu membantu saudara-saudara anda untuk terbebas dari jerat kemiskinan! Mulia sekali memang cita-cita anda, sejak pertama kali anda memutuskan menjadi seorang tukang kayu yang berwawasan luas serta memiliki kepedulian sesama yang sangat tinggi. Silakan anda introspeksi diri, apakah tingkat kepedulian anda terhadap orang lain sudah mengalahkan kepedulian anda terhadap diri anda sendiri? Maksud saya adalah sudahkah anda peduli dengan diri anda sendiri? Sudahkah anda melaksanakan sesuatu hal yang memang dirasa menjadi hal wajib yang harus anda laksanakan sebagai makhluk Tuhan, dalam hal ini Allah SWT?
Anda bisa melakukan introspeksi terhadap diri sendiri, selayaknya anda memulai pekerjaan anda dari nol, menjadi seorang tukang kayu yang lugu, hanya memikirkan kesejahteraan orang lain dengan mengorbankan kesejahteraan rohani pribadi. Saya yakin, anda akan mendapati anda memberikan prosentase +90% untuk mengatakan setuju dan ingin kembali ke zaman anda memulai pekerjaan sebagai seorang tukang kayu.
Untuk apakah anda hidup? Dari situlah terpampang peta pemikiran yang amat luas menanti anda untuk mulai dirancang, dilaksanakan, dan dikoreksi kembali di tiap langkahnya!
Salam Motivasi,
Wulida Rochman
Read more...
Btw, tertarik dengan audisi-audisi yang diadakan oleh televisi-televisi swasta di Indonesia? Hahaha, silakan saja apabila anda tertarik. Sebenarnya audisi itu sendiri banyak bukan? Ada audisi PNS, audisi masuk tempat kerja X, Y, Z, dll; Akan ada banyak sekali, tidak hanya audisi menjadi artis atau presenter televisi!
Mengapa nggak memanfaatkan fasilitas internet untuk bekerja?
Saya rasa jika kita menggunakan internet dengan bijaksana, akan sangat mungkin buat kita untuk meraup uang yang tidak begitu sedikit. Jika ditelateni, insya Allah bisa. Memangnya bang google mau kasih gratis tuh search engine? Coba anda perhatikan, di sebelah kanan kalo anda sudah melakukan searching terhadap salah satu artikel melalui google. Atau di email google, Anda melihat iklan, meski kecil bukan? Nah, itu salah satu sumber pendapatan google - iklan. Atau contoh kasus yang lain, misal yahoo yang termasuk sebagai pendahulu dari google. Lihat aja, ada iklan dimana-mana bukan? Ya, iklan. Itulah salah satu clue-nya. Iklan adalah salah satu cara bagaimana kita bisa mendapatkan uang berupa dolar, rupiah, dsb melalui dunia maya.
Sekedar pengetahuan saja, tetangga saya di daerah dayeuhkolot, bandung, sudah ada yang menyatakan pensiun dari PNS, di usianya yang cukup dini-saya taksir sekitar 28 - 30an. Konon, beliau sudah bisa mendapatkan uang sejumlah 10 jutaan melalui media internet.Bagi saya,uang sejumlah itu tergolong amat besar. Pantas saja jika menyatakan pensiun dari status PNS-nya.
Uang, memang memegang peranan penting dalam kehidupan sehari-hari. Akan alasan itulah mengapa manusia berlomba-lomba untuk mencari uang, bahkan ia sampai bersekolah hingga jenjang pendidikan yang lebih tinggi untuk mendapatkan semacam title atau pangkat, yang dengannya akan membawanya ke jenjang karir yang lebih tinggi. Lagi-lagi jenjang karir tersebut bermuara terhadap gaji dan pendapatan yang lebih tinggi. Ujung-ujungnya adalah uang. Terus terang, yang saya khawatirkan bukanlah hal demikian. Jika kita terlalu mengejar kebutuhan, memang sudah sewajarnya akan selalu bertambah dan kita memerlukan uang. Kalo di bahasa marketing-nya kebutuhan orang itu akan bertambah seiring dengan meningkatnya daya beli mereka, dan daya beli seseorang hanya dinilai dengan uang.
Adakah yang kurang?
Saya sempat berfikir, seandainya masing-masing dari kita terlalu sibuk berkecimpung di dunia pencarian uang, entah itu didapat dari bekerja di dunia nyata maupun maya, dengan pekerjaan yang halal atau (maaf) haram, lalu apa yang bisa kita berikan untuk diri kita sendiri? That's the main point! Itulah yang ingin saya sampaikan kepada saya sendiri, serta anda sebagai pembaca!
Yang ingin saya utarakan disini adalah seberapa besar kita sadar bahwa apa-apa yang kita miliki bukanlah bertujuan akhir disini, di dunia. Anda bisa bayangkan, di usia 20 tahun anda memulai karir sebagai tukang kayu. Setelah 4 tahun, anda mengalami peningkatan omzet yang cukup drastis, yang kemudian berdampak positif terhadap kondisi keuangan anda, sehingga strata anda mulai berubah pada hari itu dari seorang gembel tukang kayu menjadi tengkulak kayu di daerah X. Karena memiliki relasi dagang yang cukup banyak, setelah 6 tahun anda berani membuka toko yang tidak terlalu besar untuk menjual kayu dan memasarkannya ke toko-toko mebel yang membutuhkan. Di usia yang sudah melampaui setengah abad tersebut, anda terus menerus meningkatkan omzet penjualan kayu-kayu anda dengan cara lobi-lobi ke toko-toko mebel di hampir seluruh penjuru Indonesia. Anda memiliki omzet yang sangat besar, sehingga untuk mengantisipasi hal-hal yang tidak diinginkan dari beberapa pihak yang tidak bertanggungjawab yang mungkin saja menggunakan nama tokonya untuk melakukan kejahatan dagang, maka anda membuat perusahaan khusus menangani bisnis perkayuan. Lambat laun bisnis kayu anda mengalami kemajuan cukup pesat dengan ditawarkannya saham perusahaan anda di salah satu bursa efek di Indonesia. Saat itu anda menjadi pemilik tunggal perusahaan X, pemilik perusahaan yang memahami konsep jual beli dan fluktuasi harga saham, yang tidak lain adalah berawal dari seorang tukang kayu di daerah antah berantah. Senang sekali bukan? Bisa anda bayangkan, ketika anda menghitung umur anda, sepertinya sudah memasuki usia 55 tahun, dan usia tersebut adalah usia dimana para pegawai negeri sipil mengalami pensiun. Anda baru sadar, jika sejak awal menjadi tukang kayu, pekerjaan sehari-hari anda adalah memikirkan bagaimana supaya pekerjaan anda akan semakin baik di kemudian hari, bagaimana supaya anda bisa menghidupi anak istri anda, serta bagaimana supaya anda bisa membantu membantu saudara-saudara anda untuk terbebas dari jerat kemiskinan! Mulia sekali memang cita-cita anda, sejak pertama kali anda memutuskan menjadi seorang tukang kayu yang berwawasan luas serta memiliki kepedulian sesama yang sangat tinggi. Silakan anda introspeksi diri, apakah tingkat kepedulian anda terhadap orang lain sudah mengalahkan kepedulian anda terhadap diri anda sendiri? Maksud saya adalah sudahkah anda peduli dengan diri anda sendiri? Sudahkah anda melaksanakan sesuatu hal yang memang dirasa menjadi hal wajib yang harus anda laksanakan sebagai makhluk Tuhan, dalam hal ini Allah SWT?
Anda bisa melakukan introspeksi terhadap diri sendiri, selayaknya anda memulai pekerjaan anda dari nol, menjadi seorang tukang kayu yang lugu, hanya memikirkan kesejahteraan orang lain dengan mengorbankan kesejahteraan rohani pribadi. Saya yakin, anda akan mendapati anda memberikan prosentase +90% untuk mengatakan setuju dan ingin kembali ke zaman anda memulai pekerjaan sebagai seorang tukang kayu.
Untuk apakah anda hidup? Dari situlah terpampang peta pemikiran yang amat luas menanti anda untuk mulai dirancang, dilaksanakan, dan dikoreksi kembali di tiap langkahnya!
Salam Motivasi,
Wulida Rochman
Kosan, selesai di pagi hari




